Faidah anak-anak yang shalih
Anak-anak yang shalih itu merupakan kenikmatan dari Allah Subhanahu wata’ala
sebagaimana Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
إِذَا مَاتَ
ابْنُ آدَمَ انْقَطَعَ عَمَلُهُ إِلاَّ مِنْ ثَلاَثٍ: صَدَقَةٍ جَارِيَةٍ، أَوْ
عِلْمٍ يُنْتَفَعُ بِهِ، أَوْ وَلَدٍ صَالِحٍ يَدْعُو لَه
“Apabila meninggal anak Adam, terputuslah amalnya kecuali dari tiga perkara:
sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat, dan anak yang shalih yang mendoakannya.”
(HR. Muslim no. 1631)
Demikian pula sabda beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam yang diriwayatkan
dari sahabat Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu:
إِنَّ اللهَ
عَزَّ وَجَلَّ لَيَرْفَعُ الدَّرَجَةَ لِلْعَبْدِ الصَّالِحِ فِي الْجَنَّةِ
فَيَقُولُ: ياَ رَبِّ أَنَّى لِيْ هَذِهِ؟ فَيَقُولُ: بِاسْتِغْفَارِ
وَلَدِكَ لَكَ.
“Sesungguhnya Allah akan mengangkat derajat seorang hamba yang shalih di
jannah, kemudian ia berkata: ‘Wahai Rabbku, dari mana ini?’ Maka Allah
berfirman: ‘Dengan sebab istighfar (permintaan ampun) anakmu untukmu’.” (HR.
Ahmad)
Dan Al-Bazzar meriwayatkan dengan lafadz:
أَوْ
بِدُعَاءِ وَلَدِكَ لَكَ
“Dengan sebab doa anakmu untukmu” (Lihat Ash-Shahihul Musnad, 1/383-384,
cet. Darul Quds)
Dan juga sebagaimana sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam,
“Tujuh (perkara) yang pahalanya mengalir bagi hamba sedangkan dia berada di
kuburannya setelah matinya: (yaitu) orang yang mengajarkan ilmu, atau
mengalirkan sungai, atau menggali sumur, atau menanam pohon kurma, atau
membangun masjid atau mewariskan (meninggalkan) mushaf (Al-Qur`an) atau
meninggalkan anak yang memintakan ampunan baginya setelah matinya.” (HR.
Al-Bazzar dan dihasankan oleh Al-Albani rahimahullahu dalam Shahih Al-Jami’,
no. 3602)
Atas dasar itulah, para bapak dan ibu diwajibkan berusaha untuk mendidik
anak-anak mereka menjadi anak yang shalih agar apa yang diusahakan ini menjadi
sebuah amalan shalih bapak dan ibu di kehidupan dunia dan setelah kematian
(akhirat).
Allah Subhanahu wata’ala berfirman.
يَا أَيُّهَا
الَّذِينَ آمَنُوا قُوا أَنْفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا وَقُودُهَا النَّاسُ
وَالْحِجَارَةُ
“Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api
neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu.” (at-Tahriim: 6)
Dan Allah Subhanahu wata’ala berfirman.
وَأْمُرْ
أَهْلَكَ بِالصَّلاةِ وَاصْطَبِرْ عَلَيْهَا لا نَسْأَلُكَ رِزْقًا نَحْنُ
نَرْزُقُكَ وَالْعَاقِبَةُ لِلتَّقْوَى
“Dan perintahkanlah kepada keluargamu mendirikan salat dan bersabarlah kamu
dalam mengerjakannya. Kami tidak meminta rezeki kepadamu, Kami lah yang memberi
rezeki kepadamu. Dan akibat (yang baik) itu adalah bagi orang yang bertakwa.”
(Thaahaa: 132)
Dalam sebuah hadits yang shahih disebutkan:
أَلاَ
كُلُّكُمْ رَاعٍ وَكُلُّكُمْ مَسْؤُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ، فَالْإِمَامُ
الْأَعْظَمُ الَّذِي عَلَى النَّاسِ رَاعٍ وَهُوَ مَسْؤُولٌ عَنْ رَعِيَتِهِ،
وَالرَّجُلُ رَاعٍ عَلَى أَهْلِ بَيْتِهِ وَهُوَ مَسْؤُولٌ عَنْ رَعِيَتِهِ،
وَالْمَرْأَةُ رَاعِيَةٌ عَلَى أَهْلِ بَيْتِ زَوْجِهَا وَوَلَدِهِ وَهِيَ
مَسْؤُولَةٌ عَنْهُمْ، وَعَبْدُ الرَّجُلِ رَاعٍ عَلَى مَالِ سَيِّدِهِ وَهُوَ
مَسْؤُولٌ عَنْهُ، أَلاَ فَكُلُّكُمْ رَاعٍ وَكُلُّكُمْ مَسْؤُولٌ عَنْ
رَعِيَّتِهِ
“Setiap kalian adalah ra’in dan setiap kalian akan ditanya tentang
ra’iyahnya. Imam a’zham (pemimpin negara) yang berkuasa atas manusia adalah
ra’in dan ia akan ditanya tentang ra’iyahnya. Seorang lelaki/suami adalah ra’in
bagi ahli bait (keluarga)nya dan ia akan ditanya tentang ra’iyahnya.
Wanita/istri adalah ra’iyah terhadap ahli bait suaminya dan anak suaminya dan
ia akan ditanya tentang mereka. Budak seseorang adalah ra’in terhadap harta
tuannya dan ia akan ditanya tentang harta tersebut. Ketahuilah setiap kalian
adalah ra’in dan setiap kalian akan ditanya tentang ra’iyahnya.” (HR.
Al-Bukhari no. 5200, 7138 dan Muslim no. 4701 dari Abdullah bin ‘Umar
radhiyallahu ‘anhuma)
Makna ra’in adalah seorang penjaga, yang diberi amanah, yang harus memegangi
perkara yang dapat membaikkan amanah yang ada dalam penjagaannya. Ia dituntut
untuk berlaku adil dan menunaikan perkara yang dapat memberi maslahat bagi apa
yang diamanahkan kepadanya. (Al-Minhaj 12/417, Fathul Bari, 13/140)
Hadits dari ‘Amr bin Syu’aib, dari ayahnya, dari kakeknya, dia berkata:
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
مُرُوا
أَوْلَادَكُمْ بِالصَّلَاةِ وَهُمْ أَبْنَاءُ سَبْعِ سِنِيْنَ وَاضْرِبُوهُمْ
عَلَيْهَا وَهُمْ أَبْنَاءُ عَشْرِ سِنِيْنَ وَفَرِّقُوا بَيْنَهُمْ فِي
الْمَضَاجِعِ
“Suruhlah anak-anak kalian menunaikan shalat kala mereka berusia tujuh
tahun, dan pukullah mereka (bila meninggalkan shalat) kala usia mereka sepuluh
tahun, dan pisahkanlah tempat tidur mereka.” (Sunan Abi Dawud no. 495.
Asy-Syaikh Al-Muhammad Nashiruddin Al-Albani rahimahullahu menyatakan hadits
ini hasan shahih.)
Memohonkan hidayah untuk anak-anak
Kebanyakan manusia tidak melakukan sebab-sebab yang bisa membantunya dalam
mendidik anak-anaknya menjadi anak yang shalih. Tidak pula mengarahkan
anak-anaknya dengan sebab-sebab yang menjadikan anaknya itu memiliki sifat
takwa dan menyukai al-khair (kebaikan).
Hidayah itu adalah dua macam:
1. Hidayah ad-dalaalah wa irsyad wa bayan (petunjuk, arahan, dan penjelasan)
Inilah yang seyogyanya dituntut oleh seluruh kaum Muslimin, yaitu mengarahkan
manusia kepada kebaikan, bersemangat untuk melakukan kebaikan-kebaikan dan
meninggalkan kemungkaran-kemungkaran. Inilah yang dsebutkan dalam firman Allah
Subhanahu wata’ala,
وَإِنَّكَ
لَتَهْدِي إِلَى صِرَاطٍ مُسْتَقِيمٍ
“Dan sesungguhnya kamu benar-benar memberi petunjuk kepada jalan yang
lurus.” (asy-Syura: 52)
2. Hidayah at-taufiq wal ilham wal qabul (taufik, petunjuk qalbu, dan
menerima al-haq)
Inilah bentuk hidayah yang tiada memilikinya kecuali Allah Subhanahu wata’ala.
Karena sesungguhnya Allah Subhanahu wata’ala memberi petunjuk kepada orang yang
dikehendaki-Nya dengan rahmat-Nya.
Allah Subhanahu wata’ala berfirman.
إِنَّكَ لا
تَهْدِي مَنْ أَحْبَبْتَ وَلَكِنَّ اللَّهَ يَهْدِي مَنْ يَشَاءُ وَهُوَ أَعْلَمُ
بِالْمُهْتَدِينَ
“Sesungguhnya kamu tidak akan dapat memberi petunjuk kepada orang yang kamu
kasihi, tetapi Allah memberi petunjuk kepada orang yang dikehendaki-Nya, dan
Allah lebih mengetahui orang-orang yang mau menerima petunjuk.” (al-Qashash:
56)
Dan Allah Subhanahu wata’ala berfirman.
إِنْ عَلَيْكَ
إِلا الْبَلاغُ
“Kewajibanmu tidak lain hanyalah menyampaikan (risalah).” (asy-Syura: 48)
Dan Allah Jalla Sya’nuhu berfirman.
لَيْسَ
عَلَيْكَ هُدَاهُمْ وَلَكِنَّ اللَّهَ يَهْدِي مَنْ يَشَاءُ
“Bukanlah kewajibanmu menjadikan mereka mendapat petunjuk, akan tetapi
Allah-lah yang memberi petunjuk (memberi taufik) siapa yang dikehendaki-Nya.”
(al-Baqarah: 272)
[Dinukil dari Kitab Tarbiyatul Aulad fii Dhaui al-Kitabi wa as-Sunnati,
Penulis Abdussalam bin Abdullah as-Sulaimani, Taqdim Syaikh Shalih Fauzan, hal.
14-18

Komentar
Posting Komentar